Minggu, 28 Agustus 2016

Gus aang

Falsafah Hidup ( in my life )
Filsuf adalah tokoh pemikir bidang filsafat. Yang tentunya ilmu filsafat adalah ilmu yang mencari sedekat mungkin dengan kebenaran dengan melalui berbagai metode berpikir. Yuk kita simak saja beberapa kalimat motivasi, kalimat mutiara nan bijak dari para filsuf terkenal dunia yang mempunyai arti makna yang mendalam:


ARISTOTELES | FILSUF YUNANI
  1. "Tujuan hidup manusia adalah kebahagiaan dan eudaimonia"
  2. "Saat dunia membutuhkan, dan bakat Anda mampu memenuhinya, di sanalah lapangan kerja tercipta".
  3. "Anda takkan pernah melakukan segalanya di dunia ini tanpa adanya keberanian. Itu adalah kualitas terbesar dari pemikiran setelah kehormatan" 
  4.  “Kualitas bukanlah tindakan, tapi kebiasaan” 
  5.  “Janganlah berputus asa. Tetapi jika anda sampai berputus asa, berjuanglah terus meskipun dalam keadaan putus asa”
  6. “Setiap orang bisa menjadi marah, itu adalah hal yang mudah, tetapi menjadi marah kepada orang yang tepat, dengan kadar yang tepat, di saat yang tepat, dengan tujuan yang tepat serta dengan cara yang tepat, bukanlah kemampuan setiap orang dan bukanlah hal yang mudah”
  7. Anda takkan pernah melakukan segalanya di dunia ini tanpa adanya keberanian. Itu adalah kualitas terbesar dari pemikiran setelah kehormatan
CONFUCIUS | FILSUF CHINA
  1. "Seseorang yang melakukan kesalahan dan tidak membetulkannya telah melakukan satu kesalahan lagi. Confucius"
KARL HEINRICH MARX | FILSUF RUSIA
  1. "Para filsuf sampai sekarang hanya menafsirkan dunia.Kini tibalah saatnya untuk mengubah dunia"
LAO TZU | FILSUF CHINA
  1. Lebih baik bertanya sepuluh kali dari pada tersesat.
  2. Memahami orang lain adalah kearifan, memahami diri Anda sendiri adalah pencerahan
  3. Ketenangan adalah sumber kekuatan yang luar biasa.
  4. Dicintai dengan tulus oleh seseorang memberimu kekuatan, mencintai seseorang dengan tulus memberimu keberanian.
PHYTAGORAS | FILSUF YUNANI
  1. "Pukulan dari sahabatmu lebih baik dari pada ciuman dari musuhmu".
PLATO | FILSUF YUNANI
  1. Orang yang ingin bergembira harus menyukai kelelahan akibat bekerja.
  2. Orang baik tidak memerlukan hukum untuk memerintah mereka agar bertindak penuh tanggung jawab, sementara orang jahat akan selalu menemukan celah di sekitar hukum. 
SOCRATES |  FILSUF YUNANI
  1. Cobalah dulu,baru cerita. Pahamilah dulu,baru menjawab. Pikirlah dulu,baru berkata.Dengarlah dulu,baru beri penilaian .Berusahalah dulu,baru berhara.
THALES | FILSUF YUNANI
  1. Apabila kamu menasihati orang yang bersalah maka berlemah lembutlah agar dia tidak merasa di telanjangi
 IMAM GHOZALI | FILSUF MUSLIM
  1. Belum pernah saya berurusan dengan sesuatu yang lebih sulit daripada jiwa saya sendiri, yang kadang-kadang membantu saya dan kadang-kadang menentang saya.
  2. Yang paling besar di bumi ini bukan gunung dan lautan, melainkan hawa nafsu yang jika gagal dikendalikan maka kita akan menjadi penghuni neraka.
  3. Menuntut ilmu adalah taqwa. Menyampaikan ilmu adalah ibadah. Mengulang-ulang ilmu adalah zikir. Mencari ilmu adalah jihad.
  4. Kalau besar yang dituntut dan mulia yang dicari,maka payah melaluinya, panjang jalannya dan banyak rintangannya. 
  5. Kebahagiaan terletak pada kemenangan memerangi hawa nafsu dan menahan kehendak yang berlebih-lebihan.
GOETHE | FILSUF JERMAN
  1. Bakat terbentuk dalam gelombang kesunyian, watak terbentuk dalam riak besar kehidupan. 
GEORG WILHELM FRIEDRICH HEGEL | FILSUF JERMAN
  1. Pekerjaan yang serius adalah pekerjaan yang merujuk kepada sesuatu yang diinginkan.
  2. Semua yang riil bersifat rasional dan semua yang rasional bersifat riil
CHARLES DE MONTESQUIEU | FILSUF PERANCIS 
  1. Untuk benar-benar menjadi besar, seseorang harus berdampingan dengan orang lain, bukan di atas orang lain.
MAHATMA GANDHI | FILSUF INDIA
  1. Kepuasan itu terletak pada usaha, bukan pada pencapaian hasil. Berusaha keras adalah kemenangan besar.
FRIEDRICH NIETZSCHE | FILSUF JERMAN 
  1. Saya tidak sedih kalau Anda telah membohongi saya, tapi saya justru sedih karena sejak saat itu saya tidak bisa percaya lagi kepada Anda
PAUL TILLICH | FILSUF AMERIKA SERIKAT 
  1. Mereka yang berani mengambil risiko kemudian gagal, itu bisa dimaafkan. Mereka yang tak pernah mengambil risiko dan tak pernah gagal, ini adalah kesalahan manusia sepanjang hidupnya. 
PHAEDRUS | FILSUF ROMAWI
  1. Siapa pun yang terdeteksi melakukan kecurangan yang memalukan tidak akan pernah dipercaya meskipun mereka berbicara tentang kebenara. 
BENJAMIN FRANKLIN | FILSUF AMERIKA SERIKAT
  1. Lebih cepat tidur dan bangun lebih awal membuat manusia sehat, kaya, dan bijaksana.
VOLTAIRE | FILSUF PERANCIS
  1. Semua manusia sama; yang membedakan bukan keturunannya, tapi kebaikannya
  2. Saya tidak setuju dengan kata-kata Anda, namun saya akan membela sampai mati hak Anda untuk mengatakan hal itu. 
FRIEDRICH ENGELS | FILSUF JERMAN
  1. Satu ons aksi lebih berharga daripada satu ton teori
HERBERT SPENCER | FILSUF INGGRIS 
  1. Tujuan besar dari pendidikan bukan pengetahuan, tapi tindakan (aksi).
ARTHUR SCHOPENHAUER | FILSUF JERMAN 
  1. Semua kebenaran di dunia ini harus melewati tiga langkah. Pertama ditertawakan, kedua ditentang dengan kasar, dan ketiga diterima tanpa pembuktian dan alasan
JIDDU KRISHNAMURTI | FILSUF INDIA 
  1. Jika kita benar-benar bisa memahami persoalan, jawabannya akan datang sendiri, sebab jawaban tidak pernah terpisahkan dari persoalan.
LAO TSE | FILSUF CHINA
  1. Dia yang mengenal orang lain adalah bijaksana. Dia yang mengenal dirinya sendiri adalah terang. Dia yang dapat mengalahkan orang lain adalah bertenaga. Dia yang dapat mengalahkan dirinya sendiri adalah kuat. Dia yang merasa puas adalah orang yang kaya
  2. Perjalanan seribu Li dimulai dari satu langkah kecil.
Gus A'ang_____

Senin, 22 Agustus 2016

Dunia Fana



Beginilah Dunia


Refleksi



Gelar dari sang Penyandang di alam Fanaa

Sebenarnya apa arti dari istilah-istilah populer di Indonesia yang sering disandangkan sebagai gelar keagamaan semisal ‘ulama’, ‘kiai’, ‘habib’, dan ‘ustadz’? Meskipun masih banyak istilah kedaerahan lain seperti ‘ra’, ‘gus’, ‘ajengan’, ‘buya’, ‘anre’, maupun ‘aang’….
Mari kita obrolkan empat istilah itu saja!

Ulama….

Secara bahasa, istilah ini berakar dari kata ‘ilmun atau ‘ilmu’ yang berarti ‘pengetahuan’. Orang yang memiliki pengetahuan disebut ‘aalim. Bentuk jamak dari ‘aalim adalah ‘ulamaa atau ulama. Dengan pengertian secara bahasa ini, maka kita bisa sebut seorang pakar logika sebagai ‘aalim fi al-manthiqi, sedangkan para pakar biologi bisa kita sebut ulama juga. Jadi, ‘alim’ itu bukan sekedar julukan buat anak-anak kalem dan anggota ROHIS di sekolahnya.

Namun kita juga punya makna secara istilah. Di dalam Islam, pengetahuan sejati adalah pengetahuan yang mengantarkan segenap kesadaran menuju ketundukan kepada Tuhan dan kemaslahatan terhadap sesama makhluk Tuhan. Dan ilmu tersebut adalah ilmu agama. Sehingga hanya orang yang berpengetahuan agamalah yang disebut sebagai ‘alim, jamaknya; ‘ulamaa.

Apalagi jika mengacu kepada berbagai teks-teks suci Islam, baik al-Qur’an maupun al-Hadits. Di sana tertulis ketat kriteria bagaimana ‘ulama itu. Di dalam ayat suci disebutkan bahwa ‘ulama adalah orang-orang yang begitu meresapnya ketundukan mereka terhadap Tuhan sehingga menumbuhkan rasa takut akan Ketidakrelaan-Nya. Sedangkan dalam redaksi hadits disampaikan bahwa ulama adalah pewaris para nabi, baik berupa warisan ilmu, sikap, etika, maupun wibawanya. Berat, bukan?

Salah seorang bintang dalam keilmuan Islam lampau, Abu Hamid Muhammad al-Ghazali, bahkan menuliskan diferensiasi antara ulama sejati dan ulama gadungan. Kriteria itu menyangkut kepakaran terhadap sumber-sumber hukum Islam, disiplin ritual, kedalaman spiritual, konsistensi terhadap pelaksanaan hukum, hingga karakter dan tingkah laku keseharian.

Kiai…..

Nah, gelar ini khas Nusantara, khususnya Jawa. Satu kata ini berasal dari gabungan dua unsur kata, yakni ‘ki’ dan ‘yai’. Kata ‘ki’ adalah panggilan kepada laki-laki yang dihormati. Bagi wanita, kata ‘ki’ diganti dengan ‘nyi’. Sampai saat ini, sebutan ‘ki’ tetap melekat bagi orang-orang yang beraktivitas dalam kebudayaan Jawa. Baik dalam ranah fisik maupun spiritual.

Sedangkan ‘yai’ adalah gelar kehormatan bagi apapun yang dianggap memiliki kewaskitaan dan kewibawaan. Orang maupun benda. Sehingga benda-benda pusaka pun disebut ‘kiai’, semisal Kiai Guntur Madu dan Kiai Nogo Wilogo, sepasang set gamelan yang ditabuh saat Perayaan Sekaten di Yogyakarta. Atau sebutan bagi kerbau kehormatan di Surakarta, Kiai Slamet.

Kata ‘kiai’ ini memiliki sinonim dalam Bahasa Arab. Yakni syaikh. Secara terminologi, arti kata syaikh adalah man balagha rutbatal fadli, yaitu orang-orang yang telah sampai pada derajat keutamaan. Yakni berpengetahuan agama dan mengamalkan ilmu itu untuk dirinya sendiri serta mengajarkan kepada murid-muridnya. Penyebutan ‘kiai’ ini berasal dari inisiatif masyarakat, bukan dari dirinya sendiri atau propaganda media massa. Orang yang sudah melampaui usia sepuh pun disebut syaikh, dan anak muda yang berpengetahuan agama luas serta mulia budinya juga disapa dengan sebutan syaikh.

Intinya, sebutan ‘kiai’ disematkan bagi orang-orang yang waskita, khususnya mereka yang berpengetahuan agama dan membimbing masyarakat, baik di lingkungan pesantren atau bukan. Istilah-istilah di daerah lain yang sepadan dengan ‘kiai’ adalah; ‘ra’, ‘aang’, ‘ajengan’, ‘anre’, dan ‘buya’.

Dalam suatu kesempatan di Pesantren Krapyak Yogyakarta, Gus Mus (KH Mustofa Bisri, Rais ‘Am Pengurus Besar Nahdlatul Ulama) menawarkan satu pengertian ‘kiai’ yang –menurut saya- sangat relevan dengan kondisi sosial kemasyarakatan. Apa itu? Beliau mengatakan bahwa ‘kiai’ adalah; humu al-ladziina yandzuruuna al-ummata bi ‘ayni ar-rahmati, yakni mereka –siapapun- yang memandang segala sisi kehidupan umat dengan pandangan rahmat, kasih sayang. Bukan pandangan kebencian, kebengisan, apalagi kekeji-kejaman.
 
Oh iya, ‘gus’ adalah sapaan khas para warga pesantren terhadap anak laki-laki seorang kiai. bila perempuan, disebut ‘ning’. Kawan-kawan santri berpendapat bahwa ‘gus’ berasal dari ‘bagus’ karena rata-rata putra kiai berwajah bagus atau ganteng. Sedangkan rata-rata putri kiai ‘bening-bening’ sehingga disebut ‘ning’. Ah, itu kelakar saja.

Habib…..

Arti harfiahnya adalah ‘orang yang mencintai’ alias ‘kekasih’. Berakar dari kata hubb yang berarti ‘cinta’. Semakna dengan kata muhibb alias ‘pencinta’, jamaknya muhibbuun. Sedangkan orang yang dicintai disebut mahbuub. Istilah habiib ini, secara sosial, lazim disematkan bagi mereka yang memiliki jalur keturunan (nasab) ke ‘Ali bin Abi Thalib dan Fathimah Az-Zahra putri Baginda Nabi Muhammad. Istilah sosial sebagai keturunan Rasulullah ini sepadan dengan gelar syarif (orang yang mulia, feminimnya syarifah) dan sayyid (tuan, feminimnya sayyidah). Umumnya disematkan pula marga di belakang nama para habib ini, seperti Basyaiban, Baraqbah, Al-Aydrus, Al-Haddad, Al-Attas, As-Segaf dan sebagainya.

Atas makna inilah para habib (jamaknya; habaib) memiliki posisi yang terhormat di kalangan umat Islam sejak dahulu kala. Bukan hanya sebab nasab, tetapi juga karena kiprah dakwah mereka dalam penyebaran Islam di penjuru dunia termasuk Indonesia, sebagaimana dituturkan oleh Buya Hamka. Salah seorang kawan saya yang berasal dari kalangan hababib bermarga al-Haddad pernah mengatakan bahwa orang yang tidak berpengetahuan agama dan tidak berpekerti luhur tidak pantas dipanggil habib meskipun memiliki nasab dari Rasulullah. Cukup dipanggil ‘Yik’ (singkatan dari sayyid) saja, katanya.

Adapun keterpeliharaan garis keturunan mereka dicatat dengan rapi oleh lembaga-lembaga pencatat nasab (naqib) yang ada di masing-masing wilayah. Di Indonesia sendiri, lembaga ini bernama Maktab Daimi yang bernaung di bawah payung organisasi Rabithah ‘Alawiyyah. Jadi, kalau mau memeriksa nasabmu, jangan-jangan masih keturunan Rasulullah, datang saja kesana! Hehe.

Ustadz…..

Kata ini jelas berasal dari Bahasa Persia yang diserap oleh Bahasa Arab. Artinya ‘pengajar’, atau ‘orang yang menguasai suatu bidang tertentu dan mengajarkannya’. Jamaknya, asatidz.

Nah, dalam kerangka sosial budaya di Timur Tengah, Mesir misalnya, gelar ustadz disematkan kepada mereka yang sudah menduduki level tinggi dalam tingkat kepengajaran di universitas atau al-jami’ah. Setaraf ‘professor’, jadi kalau ada gelar al-ustadz al-duktur khliwan ibnu fahin, itu sama artinya dengan ‘Prof. Dr. Kliwon bin Paing’. Keren, kan?

Menurut pengertian ini, maka seseorang belum pantas disebut ustadz kecuali bila sudah menguasai 18 atau 12 cabang ilmu seperti
Nahwu, Shorof, Bayan, Badi’, Ma’ani, Adab, Mantiq, Kalam, Akhlaq, Ushul Fiqih, Tafsir, dan Hadits.

Namun di Indonesia, sebutan ustadz lazim disematkan kepada siapapun yang mengajarkan segala hal yang berkaitan dengan agama. Pengajar baca-tulis Al-Qur’an di TPA, pengajar di sekolah agama (madrasah diniyah), maupun penceramah-penceramah yang diorbitkan di televisi selalu dipanggil ustadz. Masalah? Tentu tidak. Sah-sah saja.

Pengikisan makna semacam ini adalah hal yang wajar dalam penyerapan bahasa asing. Bahkan istilah guru yang berasal dari Bahasa Sansekerta dan bersifat spiritual pun sudah jauh berkurang maknanya. Tapi tetap saja, kita harus berlatih memaknai suatu kata berdasarkan makna aslinya, agar tak mudah tertipu dan terlena.

Jadi, gelar ustadz bisa disandang dengan melalui berbagai kualifikasi keilmuan yang tidak instan. Apalagi sekedar melalui audisi di layar televisi. Bisa berceramah pun bukan alasan untuk bisa dikategorikan ustadz, kiai, apalagi ulama. Jauh! Ada istilah yang lebih tepat untuk penceramah, seperti al-muballigh (orang yang menyampaikan), ad-da’i (orang yang mengajak) atau al-khathib (orang yang berceramah).

Kesimpulannya, setiap kata memiliki tempat sesuai maknanya masing-masing, khususnya gelar. Kita harus tahu itu. Manfaatnya apa? Agar tidak sembarangan menyematkan gelar, bukan dari penampilan luar dan pencitraan belaka. Dan tentu, agar kita juga bisa bersikap secara proporsional ketika banyak orang menyapa kita dengan sapaan yang tidak sepantasnya kita sandang.

Gus A’ang___

Buah Pemikiran



Introspeksi Diri  @ Akhlak yang Terlupa

Dalam perjalanan hidup di dunia, tentunya seorang muslim tidak akan lepas dari kesalahan dan dosa sebagai akibat hawa nafsu yang diperturutkan. Selain itu, buah pemikiran yang dihasilkan manusia, …


Dalam perjalanan hidup di dunia, tentunya seorang muslim tidak akan lepas dari kesalahan dan dosa sebagai akibat hawa nafsu yang diperturutkan. Selain itu, buah pemikiran yang dihasilkan manusia, yang dibangga-banggakan oleh pemiliknya, tidak jarang yang menyelisihi kebenaran, tidak sedikit yang bertentangan dengan ajaran yang ditetapkan oleh Allah dan rasul-Nya.
Oleh karenanya, seiring waktu yang diberikan Allah kepada manusia di dunia, sepatutnya dipergunakan untuk mengintrospeksi segala perilaku dan pemikiran yang dia miliki, sehingga mendorongnya untuk mengoreksi diri ke arah yang lebih baik.

Introspeksi, Pintu untuk Mengoreksi Diri

Di dalam kitab Shahih-nya, imam Bukhari membuka salah satu bab kitab ash-Shaum dengan perkataan Abu az-Zinad,
إن السنن ووجوه الحق لتأتي كثيرًا على خلاف الرأي
Sesungguhnya mayoritas sunnah dan kebenaran bertentangan dengan pendapat pribadi” (HR. Bukhari).
Memang benar apa yang dikatakan beliau, betapa seringnya seseorang enggan menerima kebenaran karena bertentangan dengan pendapat dan tendensi pribadi. Bukankah dakwah tauhid yang ditawarkan nabi kepada kaum musyrikin, ditolak karena bertolak belakang dengan keinginan pribadi mereka, terutama tokoh-tokoh terpandang di kalangan kaum musyrikin?
Tidak jarang seseorang tidak mampu selamat dari hawa nafsu dan terbebas dari kekeliruan pendapat karena bersikukuh meyakini sesuatu dan tidak mau menerima koreksi. Hal ini tentu berbeda dengan kasus seorang mujtahid yang keliru dalam berijtihad. Ketika syari’at menerangkan bahwa seorang mujtahid yang keliru memperoleh pahala atas ijtihad yang dilakukannya, hal ini bukan berarti mendukung dirinya untuk menutup mata dari kesalahan ijtihad dan bersikukuh memegang pendapat jika telah nyata akan kekeliruannya. Betapa banyak ahli fikih yang berfatwa kemudian rujuk setelah meneliti ulang fatwanya dan melihat bahwa kebenaran berada pada pendapat pihak lain.
Kita bisa mengambil pelajaran dari penolakan para malaikat terhadap kalangan yang hendak datang ke al-Haudh (telaga rasulullah di hari kiamat). Mereka tidak bisa mendatangi al-Haudh dikarenakan dahulu di dunia, mereka termasuk kalangan yang bersikukuh untuk berpegang pada kekeliruan, kesalahan dan kesesatan, padahal kebenaran telah jelas di hadapan mereka. Hal ini ditunjukkan dalam hadits, ketika para malaikat memberikan alasan kepada nabi,
إِنَّهُمْ قَدْ بَدَّلُوا بَعْدَكَ، وَلَمْ يَزَالُوا يَرْجِعُونَ عَلَى أَعْقَابِهِمْ، فَأَقُولُ: أَلَا سُحْقًا، سُحْقًا
Mereka telah mengganti-ganti (ajaranmu) sepeninggalmu” maka kataku: “Menjauhlah sana… menjauhlah sana (kalau begitu)” (Shahih. HR. Ibnu Majah).
Kita dapat melihat bahwa nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mendo’akan kecelakaan kepada mereka, karena enggan untuk melakukan introspeksi, enggan melakukan koreksi dengan menerima kebenaran yang ada di depan mata. Oleh karenanya, evaluasi diri merupakan perantara untuk muhasabah an-nafs, sedangkan koreksi diri merupakan hasil yang pengaruhnya ditandai dengan sikap rujuk dari kemaksiatan dan kekeliruan dalam suatu pendapat dan perbuatan.

Sarana-sarana untuk Mengevaluasi Diri

Diantara sarana yang dapat membantu seseorang untuk mengevaluasi diri adalah sebagai berikut:
01. Tidak menutup diri dari saran pihak lain
Seorang dapat terbantu untuk mengevaluasi diri dengan bermusyawarah bersama rekan dengan niat untuk mencari kebenaran. Imam Bukhari mengeluarkan suatu riwayat yang menceritakan usul Umar kepada Abu Bakr radhiallahu anhuma untuk mengumpulkan al-Quran. Tatkala itu Abu Bakr menolak usul tersebut, namun Umar terus mendesak beliau dan mengatakan bahwa hal itu merupakan kebaikan. Pada akhirnya Abu Bakr pun menerima dan mengatakan,
فَلَمْ يَزَلْ عُمَرُ يُرَاجِعُنِي فِيهِ حَتَّى شَرَحَ اللَّهُ لِذَلِكَ صَدْرِي، وَرَأَيْتُ الَّذِي رَأَى عُمَرُ
Umar senantiasa membujukku untuk mengevaluasi pendapatku dalam permasalahan itu hingga Allah melapangkan hatiku dan akupun berpendapat sebagaimana pendapat Umar” [HR. Bukhari].
Abu Bakr tidak bersikukuh dengan pendapatnya ketika terdapat usulan yang lebih baik. Dan kedudukan beliau yang lebih tinggi tidaklah menghalangi untuk menerima kebenaran dari pihak yang memiliki pendapat berbeda.
02.  Bersahabat dengan rekan yang shalih
Salah satu sarana bagi seorang muslim untuk tetap berada di jalan yang benar adalah meminta rekan yang shalih untuk menasehati dan mengingatkan kekeliruan kita, meminta masukannya tentang solusi terbaik bagi suatu permasalahan, khususnya ketika orang lain tidak lagi peduli untuk saling mengingatkan. Bukankah selamanya pendapat dan pemikiran kita tidak lebih benar dan terarah daripada rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, padahal beliau bersabda,
إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ، أَنْسَى كَمَا تَنْسَوْنَ، فَإِذَا نَسِيتُ فَذَكِّرُونِي
Sesungguhnya aku hanyalah manusia seperti kalian. Aku lupa sebagaimana kalian lupa. Oleh karenanya, ingatkanlah aku ketika diriku lupa” (HR. Bukhari).
Ketika budaya saling menasehati dan mengingatkan tertanam dalam perilaku kaum mukminin, maka seakan-akan mereka itu adalah cermin bagi diri kita yang akan mendorong kita berlaku konsisten. Oleh karena itu, dalam menentukan jalan dan pendapat yang tepat, anda harus berteman dengan seorang yang shalih. Anda jangan mengalihkan pandangan kepada maddahin (kalangan penjilat) yang justru tidak akan mengingatkan akan kekeliruan saudaranya.
إِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِالْأَمِيرِ خَيْرًا جَعَلَ لَهُ وَزِيرَ صِدْقٍ، إِنْ نَسِيَ ذَكَّرَهُ، وَإِنْ ذَكَرَ أَعَانَهُ
Jika Allah menghendaki kebaikan bagi diri seorang pemimpin/pejabat, maka Allah akan memberinya seorang pendamping/pembantu yang jujur yang akan mengingatkan jika dirinya lalai dan akan membantu jika dirinya ingat” (Shahih. HR. Abu Dawud).
Contoh nyata akan hal ini disebutkan dalam kisah al-Hur bin Qais, orang kepercayaan Umar bin al-Khaththab radhiallahu anhu. Pada saat itu, Umar murka dan hendak memukul Uyainah bin Husn karena bertindak kurang ajar kepada beliau, maka al-Hur berkata kepada Umar,
يَا أَمِيرَ المُؤْمِنِينَ، إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى قَالَ لِنَبِيِّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: {خُذِ العَفْوَ وَأْمُرْ بِالعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الجَاهِلِينَ} [الأعراف: 199] ، وَإِنَّ هَذَا مِنَ الجَاهِلِينَ، «وَاللَّهِ مَا جَاوَزَهَا عُمَرُ حِينَ تَلاَهَا عَلَيْهِ، وَكَانَ وَقَّافًا عِنْدَ كِتَابِ اللَّهِ»
Wahai amir al-Mukminin, sesungguhnya Allah ta’ala berfirman kepada nabi-Nya, “Berikan maaf, perintahkan yang baik dan berpalinglah dari orang bodoh.” Sesungguhnya orang ini termasuk orang yang bodoh”. Perawi hadits ini mengatakan, “Demi Allah Umar tidak menentang ayat itu saat dibacakan karena ia adalah orang yang senantiasa tunduk terhadap al-Quran.” (HR. Bukhari).
Betapa banyak kezhaliman dapat dihilangkan dan betapa banyak tindakan yang keliru dapat dikoreksi ketika rekan yang shalih menjalankan perannya.
03. Menyendiri untuk melakukan muhasabah
Salah satu bentuk evaluasi diri yang paling berguna adalah menyendiri untuk melakukan muhasabah dan mengoreksi berbagai amalan yang telah dilakukan.
Diriwayatkan dari Umar bin al-Khaththab, beliau mengatakan,
حَاسِبُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوا، وَتَزَيَّنُوا لِلْعَرْضِ الأَكْبَرِ
Koreksilah diri kalian sebelum kalian dihisab dan berhiaslah (dengan amal shalih) untuk pagelaran agung (pada hari kiamat kelak)” (HR. Tirmidzi).
Diriwayatkan dari Maimun bin Mihran, beliau berkata,
لَا يَكُونُ العَبْدُ تَقِيًّا حَتَّى يُحَاسِبَ نَفْسَهُ كَمَا يُحَاسِبُ شَرِيكَهُ
Hamba tidak dikatakan bertakwa hingga dia mengoreksi dirinya sebagaimana dia mengoreksi rekannya” (HR. Tirmidzi).
Jika hal ini dilakukan, niscaya orang yang melaksanakannya akan beruntung. Bukanlah sebuah aib untuk rujuk kepada kebenaran, karena musibah sebenarnya adalah ketika terus-menerus melakukan kebatilan.

Faedah Mengintrospeksi Diri  

Mengintrospeksi diri memiliki beberapa faedah, yaitu:
01. Musibah terangkat dan hisab diringankan
Pada lanjutan atsar Umar di atas disebutkan bahwa sebab terangkatnya musibah dan diringankannya hisab di hari kiamat adalah ketika seorang senantiasa bermuhasabah. Umar radhiallahu anhu mengatakan,
وَإِنَّمَا يَخِفُّ الحِسَابُ يَوْمَ القِيَامَةِ عَلَى مَنْ حَاسَبَ نَفْسَهُ فِي الدُّنْيَا
Sesungguhnya hisab pada hari kiamat akan menjadi ringan hanya bagi orang yang selalu menghisab dirinya saat hidup di dunia” (HR. Tirmidzi).
Ketika berbagai kerusakan telah merata di seluruh lini kehidupan, maka jalan keluar dari hal tersebut adalah dengan kembali (rujuk) kepada ajaran agama sebagaimana yang disabdakan nabi shallallahu alaihi wa sallam,
إِذَا تَبَايَعْتُمْ بِالْعِينَةِ ، وَأَخَذْتُمْ أَذْنَابَ الْبَقَرِ، وَرَضِيتُمْ بِالزَّرْعِ، وَتَرَكْتُمُ الْجِهَادَ، سَلَّطَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ ذُلًّا لَا يَنْزِعُهُ حَتَّى تَرْجِعُوا إِلَى دِينِكُمْ
Apabila kamu berjual beli dengan cara inah (riba), mengambil ekor-ekor sapi (berbuat zhalim), ridha dengan pertanian (mementingkan dunia) dan meninggalkan jihad (membela agama), niscaya Allah akan menimpakan kehinaan kepada kalian, Dia tidak akan mencabutnya sampai kalian kembali kepada ajaran agama
Dalam riwayat lain, disebutkan dengan lafadz,
حتى يراجعوا دينهم
Hingga mereka mengoreksi pelaksanaan ajaran agama mereka” (Shahih. HR. Abu Dawud).
Anda dapat memperhatikan bahwa rujuk dengan mengoreksi diri merupakan langkah awal terangkatnya musibah dan kehinaan.
02. Hati lapang terhadap kebaikan dan mengutamakan akhirat daripada dunia
Demikian pula, mengoreksi kondisi jiwa dan amal merupakan sebab dilapangkannya hati untuk menerima kebaikan dan mengutamakan kehidupan yang kekal (akhirat) daripada kehidupan yang fana (dunia).
Dalam sebuah hadits yang panjang dari Ibnu Mas’ud disebutkan,
Suatu ketika seorang raja yang hidup di masa sebelum kalian berada di kerajaannya dan tengah merenung. Dia menyadari bahwasanya kerajaan yang dimilikinya adalah sesuatu yang tidak kekal dan apa yang ada di dalamnya telah menyibukkan dirinya dari beribadah kepada Allah. Akhirnya, dia pun mengasingkan diri dari kerajaan dan pergi menuju kerajaan lain, dia memperoleh rezeki dari hasil keringat sendiri. Kemudian, raja di negeri tersebut mengetahui perihal dirinya dan kabar akan keshalihannya. Maka, raja itupun pergi menemuinya dan meminta nasehatnya. Sang raja pun berkata kepadanya, “Kebutuhan anda terhadap ibadah yang anda lakukan juga dibutuhkan oleh diriku”. Akhirnya, sang raja turun dari tunggangannya dan mengikatnya, kemudian mengikuti orang tersebut hingga mereka berdua beribadah kepada Allah azza wa jalla bersama-sama” (Hasan. HR. Ahmad).
Perhatikan, kemampuan mereka berdua untuk mengoreksi kekeliruan serta keinginan untuk memperbaiki diri setelah dibutakan oleh kekuasaan, timbul setelah merenungkan dan mengintrospeksi hakikat kondisi mereka.
03. Memperbaiki hubungan diantara sesama Manusia
Introspeksi dan koreksi diri merupakan kesempatan untuk memperbaiki keretakan yang terjadi diantara manusia. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّ أَبْوَابَ الْجَنَّةِ تُفْتَحُ يَوْمَ الِاثْنَيْنِ وَيَوْمَ الْخَمِيسِ، فَيُغْفَرُ لِكُلِّ عَبْدٍ لَا يُشْرِكُ بِاللَّهِ شَيْئًا، إِلَّا رَجُلٌ بَيْنَهُ وَبَيْنَ أَخِيهِ شَحْنَاءُ، فَيُقَالُ: أَنْظِرُوهُمَا حَتَّى يَصْطَلِحَا ” مَرَّتَيْنِ
Sesungguhnya pintu-pintu surga dibuka pada hari Senin dan Kamis, di kedua hari tersebut seluruh hamba diampuni kecuali mereka yang memiliki permusuhan dengan saudaranya. Maka dikatakan, “Tangguhkan ampunan bagi kedua orang ini hingga mereka berdamai
(Sanadnya shahih. HR. Ahmad).
Menurut anda, bukankah penangguhan ampunan bagi mereka yang bermusuhan, tidak lain disebabkan karena mereka enggan untuk mengoreksi diri sehingga mendorong mereka untuk berdamai?
04. Terbebas dari sifat nifak
Sering mengevaluasi diri untuk kemudian mengoreksi amalan yang telah dilakukan merupakan salah satu sebab yang dapat menjauhkan diri dari sifat munafik. Ibrahim at-Taimy mengatakan,
مَا عَرَضْتُ قَوْلِي عَلَى عَمَلِي إِلَّا خَشِيتُ أَنْ أَكُونَ مُكَذِّبًا
Tidaklah diriku membandingkan antara ucapan dan perbuatanku, melainkan saya khawatir jika ternyata diriku adalah seorang pendusta (ucapannya menyelisihi perbuatannya).
Ibnu Abi Malikah juga berkata,
أَدْرَكْتُ ثَلاَثِينَ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، كُلُّهُمْ يَخَافُ النِّفَاقَ عَلَى نَفْسِهِ، مَا مِنْهُمْ أَحَدٌ يَقُولُ: إِنَّهُ عَلَى إِيمَانِ جِبْرِيلَ وَمِيكَائِيلَ
Aku menjumpai 30 sahabat Nabi shallallahu alaihi wa sallam, merasa semua mengkhawatirkan kemunafikan atas diri mereka. Tidak ada satupun dari mereka yang mengatakan bahwa keimanannya seperti keimanan Jibril dan Mikail” (HR. Bukhari).
Ketika mengomentari perkataan Ibnu Abi Malikah, Ibnu Hajar mengutip perkataan Ibnu Baththal yang menyatakan,
إِنَّمَا خَافُوا لِأَنَّهُمْ طَالَتْ أَعْمَارُهُمْ حَتَّى رَأَوْا مِنَ التَّغَيُّرِ مَا لَمْ يَعْهَدُوهُ وَلَمْ يَقْدِرُوا عَلَى إِنْكَارِهِ فَخَافُوا أَنْ يَكُونُوا دَاهَنُوا بِالسُّكُوتِ
“Mereka khawatir karena telah memiliki umur yang panjang hingga mereka melihat berbagai kejadian yang tidak mereka ketahui dan tidak mampu mereka ingkari, sehingga mereka khawatir jika mereka menjadi seorang penjilat dengan sikap diamnya” (Fath al-Baari 1/111).

Kesimpulannya, seorang muslim sepatutnya mengakui bahwa dirinya adalah tempatnya salah dan harus mencamkan bahwa tidak mungkin dia terbebas dari kesalahan. Pengakuan ini mesti ada di dalam dirinya, agar dia dapat mengakui kesalahan-kesalahan yang dilakukannya sehingga pintu untuk mengoreksi diri tidak tertutup bagi dirinya. Allah ta’ala berfirman,
إن الله لا يغير ما بقوم حتى يغيروا ما بأنفسهم
Allah tidak akan mengubah kondisi suatu kaum sampai mereka mengubahnya sendiri
(Al-Ra`d 11).
Manusia merupakan makhluk yang lemah,  betapa seringnya dia memiliki pendirian dan sikap yang berubah-ubah. Namun, betapa beruntungnya mereka yang dinaungi ajaran agama dengan mengevaluasi diri untuk berbuat yang tepat dan mengoreksi diri sehingga melakukan sesuatu yang diridhai Allah. Sesungguhnya rujuk kepada kebenaran merupakan perilaku orang-orang yang kembali kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya.
Gus A’ang_____